jump to navigation

Since I Don’t Have You September 7, 2006

Posted by mblendes in cerita pendek.
trackback

Pagi-pagi Ogi udah dengerin jeritannya Axl Rose yang sendu lewat “Since I Don’t Have You” dalam album Spaghetti Incident-nya Guns ‘N Roses. Hari benar-benar masih pagi. Hal yang tak lazim bagi anak semanis Ogi untuk mendengarkan ‘ceramahnya’ para pengusung musik heavy metal itu. Lantunan syair yang dibawakan Axl Roses dan kelompok Bedil Karo Kembang-nya ibarat doa-doa indah yang manjur dalam telinga Ogi. Tak terasa bibirnya mengikuti bait-bait lagu itu. “I don’t have anything. And I don’t have hopes and dreams. I don’t have anything. Since I don’t have you…”

Enak didengar? Lumayan. Maklum mantan vokalis grup band. Jadi nyetel aja ngikutin tembang kayak begituan mah. Namun, omong-omong, kenapa Ogi bisa begitu sentimentil? Jangan-jangan ada udang di balik bakwan nih. Soal, nggak biasanya begitu sedih. Ogi masih menggenggam secarik kertas putih yang sudah belepotan dengan tulisan tangan yang rapi.
Surat yang ia dapatkan dari pengurus rohis dua hari yang lalu. Sesekali ia membaca
surat itu.
Surat yang ternyata membuat gemuruh di dadanya semakin kencang dan tak tertahankan. Tersenyum, tapi lantas wajahnya tak bisa disembunyikan dari rasa kecewa.

“Jadi juga kamu pergi, Leony!” Ogi setengah bergumam. Lalu ia menyandarkan kepalanya pada lipatan kedua tangannya. Ia berbaring di kasur. Kupingnya tetap mendengarkan jeritan sindennya kelompok Bedil Karo Kembang, Axl Rose membawakan Since I Don’t have You. Weleh, weleh. Ternyata surat yang ada dalam genggaman Ogi adalah surat dari Leony. Tapi, kok kenapa bikin Ogi jadi begitu? Ada yang aneh dalam suratnya Leony? Ya, Leony ternyata harus kembali mengembara mengikuti tugas bapaknya ke luar jawa. Maklum, karir bapaknya sedang naik. Itu pun katanya sebagai syarat untuk promosi jabatannya. Leony terpaksa harus ikut, karena konon bapaknya nggak tega kalo anak perempuan semata wayangnya harus ditinggalin di Jakarta sendirian. Tapi apa hubungannya dengan Ogi? Bukankah surat tersebut adalah surat kepada semua anggota rohis sebagai ucapan perpisahan karena nggak bisa berjuang bersama dalam waktu dan tempat yang sama? Dan surat itu kan surat biasa, ungkapan dari seseorang yang tidak hanya menganggap anak-anak rohis sebagai bilangan, tetapi juga diperhitungkan. Jadi, wajar kan kalo curahan hatinya dituangkan dalam surat kepada rekan-rekan seperjuangannya. Kedengarannya memang heroik dan bahkan romantis. Itu lah isi surat Leony kepada rekan-rekannya yang aktif di rohis. “Kamu belum tahu apa yang sebenarnya ada di hatiku,” Ogi kembali ngomong sendiri.

“Hari-hari yang indah bersamamu, meski tak pernah mengungkapkan kata cinta, sangat membekas dalam diriku, Leony. Sepertinya terlalu manis untuk dilupakan. Aku membutuhkanmu, justeru di saat aku melupakanmu” ucapnya pelan.

“Sebenarnya aku mencintaimu. Namun, kamu belum mendengar kata itu diucapkan dari bibirku,” Ogi seolah menyesal.

O, itu toh yang membuat Ogi jadi murung, dan mukanya tampak masam, persis nasi uduk yang udah nggak dimakan selama empat hari? Masam banget! Ternyata Ogi diam-diam mencintai Leony. Hari minggu yang cerah. Matahari sebenarnya sudah mulai beranjak dari kaki langit. Mulai merayap seiring dengan berubahnya waktu. Sinarnya begitu hangat untuk mengusir embun yang sejak malam tadi menggelayut di dedaunan. Betul-betul suasana yang menyenangkan. Namun tidak untuk Ogi. Ogi kemudian menatap VCD yang ada di hadapannya. Sebuah film romantis, namun tragis, Message in a Bottle yang diangkat dari novel dengan judul yang sama karya Nicholas Sparks.

Ia tersenyum sendiri. “Ah, kadang-kadang memang kita harus menjalani hidup seperti dalam sebuah film. Ternyata cinta tak selamanya harus berakhir bahagia.” Aksi diamnya

Ogi itu tak ada yang memprotes, soalnya papa dan mamanya sedang ke luar kota. Kalo pembantunya, Bi Iyam, nggak bakalan berani mengusik posisinya. Ogi benar-benar jadi pemuda melankolis pagi ini. Senin pagi yang cerah. Dan hari pertama Leony resmi meninggalkan anak-anak rohis SMU Jingga. Kegalauan dalam hati Ogi semakin menjadi-jadi, ketika ia melewati tempat bersejarah saat ia harus berlama-lama ngerumpi bareng Jamil soal Leony. Sebuah bangku di sisi taman sebelah utara, yang biasa dipakai Ogi dan Jamil untuk ngetem sambil ngerumpi. Ia duduk sendiri. Wajahnya menatap kosong pohon kembang kertas yang mulai tumbuh subur. Ogi belum bisa menghapus bayangan indah tentang Leony.

“Gi!” suara jelek yang sangat akrab di telinganya membuyarkan lamunan Ogi.

“Mil, bilang salam dulu, kek. Bikin kaget aku aja!” Ogi setengah protes pada sahabat karibnya. “Sori. Sori. Kalo aku ternyata membuatmu terkaget-kaget. Tenang sobat!” Jamil menenangkan suasana.

“Eh, Gi. Kayaknya enak juga nih kalo dengerin lagu ini. Cocok buat kamu!” Jamil menyodorkan walkman nyentriknya pada Ogi.

“Tumben kamu Mil, pake membawa-bawa benda keramat ini. Ngomong-ngomong sumbunya udah dipasang belum nih?” Ogi malah ngeguyonin.

“Enak aja, emangnya kompor?” Jamil mendelik. Ogi segera menekan tombol play walkman-nya Jamil. Tapi sebentar kemudian Ogi melepaskan earphone-nya.

“Wah, kamu ngeledek, ya? Makin membuat aku terlena dong? Kamu tahu aja suasana hatiku. Pantesnya lagu Tommy Page ini dengernya malam-malam.Supaya bisa curhat.” Ogi mengomentari lagu Shoulder to Cry On-nya Tommy Page di kaset Jamil.

 

“Tuh,kan. Benar juga tebakanku. Pasti kamu lagi mikirin Leony. Terang saja selama ini kamu kan sniper ulung, Cuma sayang belum teruji, karena belum pernah melepaskan tembakan jitu ke dalam relung hatinya. Baru sebatas ngincer doang!” Jamil tetap menggoda sambil tertawa terkekeh.

 

“Hush, sembarangan! Jangan kenceng-kenceng, Mil!” Ogi mendelik. Lalu sejenak kemudian, keduanya tertawa lebar sambil tunjuk-tunjuk hidung.

***

Kata orang, cinta itu memang indah. Cinta adalah energi yang mampu memberikan kekuatan yang dahsyat. Dalam tataran cinta antar lawan jenis, sering kali cinta membuat pelakunya tertawa sekaligus menangis. Cinta memang unik. Datang tanpa diundang dan pergi pun tanpa diminta. Tiba-tiba ada dan mengalir dalam jiwa. Kita pun hanyut dalam menikmatinya. Makanya nggak salah-salah amat kalau akhirnya Ebiet G. Ade, seniman yang puisinya sering dimusikalisasi ini bertanya:

“Apakah ada bedanya, saat kita bertemu dengan saat kita berpisah?” Jawabnya, masih dalam lagu yang sama, sama-sama nikmat! Percaya atu tidak, terserah.Kalau api cinta sudah membara kadang kala sulit untuk dipadamkan. Sam yang diperankan Tom Hanks yang begitu kesepian gara-gara ditinggal mati oleh istri tercintanya, mendadak jatuh hati kepada seorang wanita cantik dan keibuan yang berhasil diperankan dengan mantap oleh Meg Ryan dalam film Sleepless In Seattle. Munculnya pun sederhana saja. Anaknya Sam menelepon sebuah stasiun radio yang sedang menyiarkan acara semacam dari hati ke hati. Si anak mengungkapkan bahwa ayahnya tak pernah bisa tidur sejak ditinggal mati ibunya. Tanpa sengaja, seorang wanita yang berhati lembut yang diperankan dengan cantik oleh Meg Ryan juga sedang mendengarkan siaran radio tersebut di mobilnya. Ia terenyuh dengan omongan si anak itu.

Akhirnya ia mencari. Bertemu dan happy ending. Pun cinta kadangkala tumbuh hanya karena merasa iba dengan curahan hati seseorang. Seperti Robin Wright Penn yang memerankan Theresa Osborne. Ia yang kesepian akibat perceraian kemudian jatuh cinta gara-gara menemukan sebuah botol yang terapung-apung di pantai. Setelah diambil, ia membuka botol dan didapatinya secarik kertas bertuliskan curahan hati seorang pria dengan begitu romantis—karena ditinggal mati istrinya–di botol itu hanya tertulis inisial“G”. Yang belakangan ketahuan bahwa pria itu adalah Garret Blake yang diperankan dengan matang oleh Kevin Costner dalam film Message in a Bottle.

Ogi juga sedang dilanda kegalauan hati gara-gara sang dewi pujaan meninggalkan dirinya dan semua rekan-rekan rohis di sekolahnya, untuk pindah ke luar jawa. Yang, entah kapan bisa bertemu kembali. Sangat sulit bagi Ogi untuk membayangkan perpisahan itu. Maklum, ia punya kisah kasih, meski Leony sendiri mungkin tak pernah merasakannya. Tentu saja karena Ogi belum memberikan harapan pada Leony tentang keinginannya. Namun Ogi tetap merasa bahwa jiwanya hampa. Ogi merasa sudah kehilangan harapan dan mimpi sejak Leony pergi. I Don’t Have Anything, since I don’t have you, begitu katanya. Duh, betapa sentimentilnya Ogi. Love is Blind kata Tiffany. Ya, wajar, anak seumuran Ogi masih pantas untuk menilai cinta dari sudut egonya. Jamil sang sohib sempat dibikin pusing dengan tingkah Ogi yang nggak biasanya. Ogi jadi pemurung. Ibarat pemain sepakbola yang tak punya mental juara, baru kemasukan satu gol saja sudah pasrah. Ogi benar-benar menjadi tak bergairah. Ibarat tanaman yang kekurangan air. Lemas dan loyo, meski Jamil selalu memberikan bodoran-bodoran khasnya.

“Ah, aku kayaknya badut yang udah nggak lucu lagi,” kata Jamil frustasi karena bodorannya nggak mampu membuat teman akrabnya ngakak atau sekadar senyum.
“Mil, ternyata anak pengajian juga bisa sakit hati, ya?” Ogi setengah nggak percaya.

“He..he.. lha iya. Namanya juga manusia. Pasti dong punya
perasaan. Gimana sih kamu ini? Wajar, Gi!” Jamil ngeledekin.
“Berarti wajar juga kan kalo aku begini?” Ogi mengajukan pembelaan.
“Lho, wajar sih wajar, tapi jangan keterusan sentimentil begitu,” Jamil kali ini rada serius. “Kamu menuduh aku frustasi?” Ogi menuding Jamil.
“Kok, kamu jadi perasa banget, Gi?” Jamil heran.
“Memangnya nggak boleh, kalau aku mencintai seseorang?” Ogi malah ngelantur.

“Boleh-boleh saja.
Itu hak kamu. Tapi kita juga mesti tahu diri, bahwa cinta jangan sampai mematikan akal sehat kita,” Jamil kembali nasihatin Ogi.
“Tapi, Mil..” Ogi memotong.
“Tapi apa? Tapi aku nggak bisa melupakan begitu saja soal
Leony. Itu kan yang akan kamu katakan?” Jamil menekan.
“Mil, kamu kok bukannya memberikan solusi. Malah memojokkan aku, sih?” Ogi bingung.
“Justru aku memberikan yang terbaik buat kamu,” Jamil nggak bisa nahan kekesalannya. Kali ini dua sahabat itu terlihat tegang.
“Ah.. bilang saja bahwa kamu juga mencintai Leony. Iya kan? Dan kamu berusaha memalingkan aku tentang Leony, supaya kamu bisa mengejar Leony dengan bebas. Begitu kan?” Ogi malah tambah ngaco.

“Gi, kamu sadar nggak sih dengan apa yang kamu katakan?” Jamil melotot. Ogi tertegun, ia menelan ludah. Matanya berkaca-kaca. Matanya menatap kosong pohon kembang kertas yang bunganya mulai berjatuhan ditiup angin. Pikirannya menerawang menembus mega-mega. Menembus dimensi ruang dan waktu.

“Gi, kamu memang punya hak untuk mencintai siapa saja, termasuk Leony. Tapi ingat bahwa Leony pun punya hak untuk mencintai siapapun yang dia inginkan. Lagi pula kamu ini aneh. Belum mengungkapkan kok sudah menganggap memiliki Leony. Kamu hanya mengejar bayangan, Gi. Bukan diri Leony!” Jamil kembali nasihatin Ogi.
“Tapi ini hanya soal waktu, Mil! Its a matter of time!” Ogi berargumen.

“Gi, kamu jangan menipu dirimu. Jangan-jangan kamu hanya bertepuk sebelah tangan. Cinta itu harus diekspresikan. Harus diwujudkan dalam tingkah laku. Percuma saja kamu menyatakan cinta, namun tak diwujudkan dalam tindakan nyata.Cinta itu butuh pengorbanan, Gi. Cinta itu perjuangan!” Jamil panjang lebar. “Jadi, kamu menganggap bahwa aku belum berjuang?” Ogi menatap lekat wajah sahabatnya itu. “Belum! Kamu belum bisa dikatakan telah berjuang. Kalo sudah berjuang pasti akan berani berkorban dan menghadapi kenyataan,” “Tapi…” Ogi nggak ngelanjutin bicaranya.

“Tapi aku belum berani mengatakannya. Itu kan yang akan kamu sampaikan?” Jamil memotong.

“Mil, tolonglah. Jangan kamu menambah beban,” Ogi memelas.

“Gi, kamu nggak pantas melakukan ini. Aku tahu betul gimana kamu. Aku ngerti suasana hati kamu. Aku berusaha empati terhadapmu. Tapi, tolong kamu jangan bermain dengan perasaan-perasaan yang cengeng dan konyol seperti itu. Aku berusaha untuk menolongmu. Asalkan kamu juga mau menolong dirimu sendiri,”
“Maksudmu?”
“Aku tahu, masalah ini hanya aku dan kamu yang tahu. Aku sahabatmu, Gi. Aku nggak rela bila sohib sejak masa jahiliyah sampai udah hijrah ini harus menderita dan selalu menguber bayangan yang tak pasti. Lagi pula perjalanan kita masih panjang. Masih muda usia. Perjuangan dakwah juga masih memerlukan orang-orang seperti kita. Kita jangan hanyut dalam perasaan-perasaan yang justeru akan membuat kewajiban kita tak terlaksana. Anggap ini sebagai ujian dari Allah. Toh kembang tak hanya setaman, kan? Lagi pula cinta kepada Allah jauh lebih tinggi nilainya,” Jamil panjang lebar meyakinkan Ogi.Ogi kembali tertegun. Ia melihat ke langit. Matanya asyik menatap sekawanan burung yang terbang gesit. Licah seperti tak memiliki beban.
“Gi, kamu bisa kirim surat dan mengatakan terus terang kepadanya,” Jamil menyadarkan lamunan Ogi.
“Aku belum berani!”
“Ya, sudah lupakan!”

“Tidak bisa, Mil!” Ogi ngotot.

“Jangan egois. Kamu bisa melupakannya ketika ada bunga lain yang mampu mencairkan dinding es yang kamu bangun. Aku yakin bahwa suatu saat seiring dengan perubahan waktu, kamu bisa melupakan Leony. Dan yang terpenting, kamu kan belum tahu tentang Leony. Siapa tahu ia malah memimpikan bersanding dengan Arya atau Koko atau arjuna lain di rohis ini.
Atau malah ia sudah berencana dengan teman lamanya ketika diBandung. Kita nggak tahu kan? Karena dalamnya lautan masih bisa diselami. Tapi dalamnya hati manusia, nggak ada yang tahu kecuali Allah. Iya nggak?” Jamil nyeramahin Ogi.

“Tapi aku belum menemukan yang lebih dari dia..”
“Bohong! Kamu sendiri pernah mengatakan kepadaku, bahwa Rosa adalah pilihan kedua kamu!” Jamil kembali memotong. Ogi tertegun. Ia bahkan tersentak. Ogi menatap lekat wajah Jamil seolah tak ingin melepaskannya. Dan Jamil pun balas menatap tajam wajah Ogi.
“Gi, kamu pernah bicara bahwa kamu mencintai Rosa. Hanya saja kamu belum berani mengatakannya. Dan keburu datang Leony yang ternyata bayangannya mampu mengalahkan pikiran-pikiranmu tentang Rosa,” Jamil nyerocos.

“Sudah. Sudah Mil, kita pulang saja! Waktu sudah sore. Sekolahan sudah sepi,” Ogi bangkit. Jamil menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Akhirnya dua makhluk itu beranjak meninggalkan taman sekolah yang sejak selesai sholat dhuhur mereka tempati.

“Mil, boleh nggak sih aku mengkhitbah seseorang saat ini?”Ogi ingin keyakinan.
“Eh, nggak boleh!” suara Jamil di ujung telepon.

“Lho, kok nggak boleh?” Ogi heran.
“Iya, nggak boleh malah haram kalau yang kamu khitbah adalah aku,” Jamil cengengesan.
“Dasar!” Ogi nahan ketawa.

“Boleh-boleh aja. Asal kamu serius mau menikahinya,” Jamilmeyakinkan.
“Ya, aku mau menikahinya. Tapi nanti setelah kuliah. Kamu mau bantu?”
“Huu….masih lama dong!”“Tapi kan ini proses, Mil!” Ogi beralasan.
“Iya. Tapi kelamaan!”“Aku serius, Mil!” Ogi ngotot.
“Bene serius, nih?” Jamil setengah nggak percaya.“Mengapa tidak?” Ogi nantang.
“Leony?” Jamil pendek.

“Tidak.
Tekadku sudah bulat: Harus melupakan Leony!” Ogi bertekad sambil menirukan slogan salah satu parpol peserta pemilu.

“Wah, hebat kamu, Gi. Aku nggak sedang bermimpi, kan. Dan aku nggak salah dengar, kan?” Jamil seolah nggak percaya dengan keputusan sohibnya yang tiba-tiba.

“Kamu nggak mimpi, Mil. Bayangan Leony ingin kuhapus agar tak pernah menghantui kehidupanku.
Mil, kadangkala kita harus mengubur segala keinginan. Keinginan yang tak
tertahankan sekalipun. Aku sadar, bahwa tak selamanya hidup ini bisa memilih, kadangkala harus menerima apa adanya. Meski pedih sekalipun.” Ogi panjang lebar.
“Alhamdulillah!” Jamil bersyukur.
“Terima kasih, Mil. Kamu telah mampu membuka pikiranku tentang hidup, semalaman aku nggak bisa tidur memikirkan dia dan nasihat-nasihat kamu.

“Dia, siapa?” Jamil mengejar.
“Ya, Rosa dan Leony. Siapa lagi?” Ogi tertawa.
“Jadi kamu memilih Rosa?” Jamil meyakinkan tebakannya.
“Begitulah!” Ogi memantapkan.

“Mil. Halo, halo?”
“Ya, aku masih ada di sini, Gi!”
“Kenapa kamu diam?”
“Nggak, cuma kaget aja,” Jamil beralasan.
“Ya, udah. Kalau begitu tolong ya, sampaikan sama Rosa!”

“Hah? Aku?” Jamil keselek.
“Lho, kenapa tidak? Kamu kan sohibku.” Ogi kaget.
“Iya, iya. Aku siap bantu kamu, Gi!” Jamil sedikit grogi.
“Aku tunggu kabar baiknya ya, Mil. Yuk Assalamu’alaikum!” Ogi nutup pembicaraan via teleponnya.
“Ya, wa’alaikumsalam. Klik!”

***

Ogi deg-degan menunggu kabar itu dari Jamil. Ogi sudah bulat untuk mengkhitbah Rosa dan berencana menikahinya setelah lulus sekolah nanti, sambil kuliah. Ya, paling tidak setahun lagi. Ia berpikir mudah-mudahan bisa menjaga hubungannya sesuai syariat Islam bila sampai jadi dengan Rosa.

Ogi menunggu Jamil di taman sebelah utara yang biasa dipakai mangkal kalau lagi santai. Lama juga menunggu Jamil. Ogi gelisah. Maklum Jamil akan membawa keputusan paling bersejarah dalam hidupnya. Matanya menatap kembang-kembang kertas. Kadang-kadang berkelebat bayangan Leony. Tapi Ogi berusaha keras untuk menepisnya.

“Gi! Melamun aja kamu!”
“Eh, kamu Mil. Ngucapin salam kenapa sih? Bikin kaget orang
saja.” Ogi setengah kesal.
“Gimana, berhasil?” Ogi nggak sabar.
“Sabar kawan!”
“Ayo dong, Mil!” Ogi makin deg-degan.
“Gi, kamu benar-benar mau melupakan Leony?” Jamil pelan.
“Kok, kamu bertanya itu lagi sih?” Ogi heran.
“Baca ini!” Jamil menyodorkan surat dari Rosa.
“Maksudmu, apa?”

“Sudah, baca saja!” Jamil bikin penasaran Ogi.
Ogi buru-buru membuka lalu membacanya.

“Yang terhormat, Saudaraku, Ogi

Assalamu’alaikum wr. Wb.

Alhamdulillah segala puji hanya milik Allah. Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada junjungan kita semua, Nabi Muhammad saw. keluarga, sahabat dan umatnya yang setia meneladani beliau dalam seluruh aspek kehidupannya. Amin.Langsung saja. Terus terang Aku kaget dengan ungkapan hatimu yang disampaikan Jamil. Aku sangat berterima kasih atas niat baikmu terhadapku. Aku merasa mendapat sesuatu yang sulituntuk digambarkan dengan kata-kata. Sulit diterjemahkan dalam sebuah rangkaian tulisan. Ogi, Aku sangat gembira mendengar niatanmu. Dan Aku pun sangat ingin untuk bisa memenuhi itu. Namun, Aku harap kamu juga mau mengerti perasaan wanita. Kaget, ya? Jadi, begini. Sebagai seorang wanita Aku sendiri sering merasa kesulitan bila harus menyakiti hati orang lain, apalagi teman sendiri. Kamu kenal Leony kan? Ia telah mengungkapkan isi hatinya kepadaku, bahwa ia berharap bisa hidup berdampingan denganmu di masa yang akan datang.”

Glek! Ogi kaget setengah hidup.

“Kenapa Gi?” Jamil heran.

Tapi Ogi tak menghiraukan pertanyaan Jamil. Ogi kembali melanjutkan dengan hati makin deg-degan. Kali ini Jamil pun ikutan baca. “Ya, Leony sangat mencintaimu. Ia hanya berani mengungkapkan kepadaku. Tentu saja, karena perempuan tak seberani pria dalam mengungkapkan perasaannya. Lagi pula, aneh bila wanita duluan yang harus mengungkapkan perasaannya pada pria. Jadi, Aku juga tak ingin membuatnya menderita. Meski Aku sendiri sebenarnya bahagia menerima pinanganmu. Tapi menurutmu, kalau cinta harus memilih, pilihlah Leony. Ia berhak merasakan kebahagiaan itu.Salam Rosa Ogi meremas surat dari Rosa yang bersampul biru muda itu.

Ogi dan Jamil saling berpandangan ?

 

 

-taken from somewhere-

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: